Minggu, 12 April 2015

MSI 4




SIKAP KEBERAGAMAAN INTRINSIK dan EKSTRINSIK
Hubungan antara psikologi dan agama dimulai dengan sikap antagonis para psikolog terhadap agama. William James misalnya, ia menganggap tokoh agama sebagai creatures of exalted emotional sensibility. Menurutnya, para nabi dan orang-orang suci dihinggapi perasaan yang berlebih-lebihan : melankoli, halusinasi, mendengar suara, atau melihat visi dan berbagai potologikal lainnya.
Namun seiring berjalannya waktu para psikolog menjadi seorang protagonis terhadap agama. Mereka menilai bahwa orang yang beragama baik tentu psikologinya juga baik.

Dua Macam Cara Beragama
Ada dua macam cara beragama yaitu yang ekstrinsik dan yang intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan, dan bukan untuk kehidupan, something to use but not to live.  Sedangkan yang intrinsik yang dianggap menunjang kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat, agama dipandang sebagai comprehensive commitment, dan driving integrating motive, yang mengatur seluruh hidup seseorang.
            Singkatnya cara Bergama ekstrinsik diibaratkan fiqih (berupa tampilan fisik) atau amalan-amalan formal, misalnya sholat, puasa, dsb. Sedangkan cara beragama intrinsik berisi nilai-nilai yang terkandung dalam ekstrinsik (hikmah). Contoh yang ekstrinsik adalah ibadah puasa, setelah melakukan puasa yang di dapat adalah yang intrinsik yaitu bersikap jujur, belas kasih, sabar, dsb.

oleh-oleh :  
Setiap orang itu ingin dihargai, tapi kita kurang bisa menghargai.
Setiap orang itu ingin didengar, tapi kita kurang bisa mendengar.
Jika ingin merubah orang lain, ubahlah pola pikir diri sendiri terlebih dahulu. Sabda rosululloh “ibda’ binafsi” (ubahlah dirimu sendiri terlebih dahulu).  
Cara pendang terhadap orang lain akan mempengaruhi produk pemikiran. 
Keberanian untuk mengalah menunjukkan kebesaran jiwa seseorang.
Thomas merton, “anda tidak akan mendatangkan kedamaian tanpa disertai amal saleh”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar