SIKAP
KEBERAGAMAAN INTRINSIK dan EKSTRINSIK
Hubungan antara
psikologi dan agama dimulai dengan sikap antagonis para psikolog terhadap
agama. William James misalnya, ia menganggap tokoh agama sebagai creatures of exalted emotional sensibility.
Menurutnya, para nabi dan orang-orang suci dihinggapi perasaan yang
berlebih-lebihan : melankoli, halusinasi, mendengar suara, atau melihat visi
dan berbagai potologikal lainnya.
Namun seiring
berjalannya waktu para psikolog menjadi seorang protagonis terhadap agama.
Mereka menilai bahwa orang yang beragama baik tentu psikologinya juga baik.
Dua
Macam Cara Beragama
Ada dua macam cara
beragama yaitu yang ekstrinsik dan yang intrinsik. Yang ekstrinsik memandang
agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan, dan bukan untuk kehidupan, something to use but not to live. Sedangkan yang intrinsik yang dianggap
menunjang kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat, agama dipandang sebagai comprehensive commitment, dan driving integrating motive, yang
mengatur seluruh hidup seseorang.
Singkatnya
cara Bergama ekstrinsik diibaratkan fiqih (berupa tampilan fisik) atau
amalan-amalan formal, misalnya sholat, puasa, dsb. Sedangkan cara beragama
intrinsik berisi nilai-nilai yang terkandung dalam ekstrinsik (hikmah). Contoh
yang ekstrinsik adalah ibadah puasa, setelah melakukan puasa yang di dapat
adalah yang intrinsik yaitu bersikap jujur, belas kasih, sabar, dsb.
oleh-oleh :
Setiap orang itu ingin dihargai, tapi kita kurang bisa menghargai.
Setiap orang itu ingin didengar, tapi kita kurang bisa mendengar.
Jika ingin merubah orang lain, ubahlah pola pikir diri sendiri terlebih dahulu. Sabda rosululloh “ibda’ binafsi” (ubahlah dirimu sendiri terlebih dahulu).
Cara pendang terhadap orang lain akan mempengaruhi produk pemikiran.
Keberanian untuk mengalah menunjukkan kebesaran jiwa seseorang.
Thomas merton, “anda tidak akan mendatangkan kedamaian tanpa disertai amal saleh”
Setiap orang itu ingin dihargai, tapi kita kurang bisa menghargai.
Setiap orang itu ingin didengar, tapi kita kurang bisa mendengar.
Jika ingin merubah orang lain, ubahlah pola pikir diri sendiri terlebih dahulu. Sabda rosululloh “ibda’ binafsi” (ubahlah dirimu sendiri terlebih dahulu).
Cara pendang terhadap orang lain akan mempengaruhi produk pemikiran.
Keberanian untuk mengalah menunjukkan kebesaran jiwa seseorang.
Thomas merton, “anda tidak akan mendatangkan kedamaian tanpa disertai amal saleh”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar