Minggu, 03 Mei 2015

MSI 7



Oh..daebak,,pertemuan MSI ke 7 sangat mengejutkan, awalnya memang tampak biasa. Pelajaran dimulai dengan doa setelah itu Bapak dosen menunjuk beberapa anak maju kedepan untuk membacakan hasil meresum nya. Dan setelah itu kejutan pun dimulai. “keluarkan selambar kertas dan jangan lupa beri nama dan kelas, hari ini kita uts”. Kalimat yang singkat, padat, jelas dari Bapak dosen dan cukup membuat semua anak berkata “haa..uts…aduh aku durung sinau e, aku wes lali materi seng pertama, haduh piye iki, halah emboh wes pasrah ae, dijawab sak iling e…:-(
Sungguh ironis memang:-D
Dan akhirnya dengan segenap kemampuan dan ingatan yang ada semua anak mengerjakan soal uts yang hanya 4 soal, tapi cukup membuat binggung karena kurangnya persiapan. Dan ada kegiatan yang mungkin cukup sulit dihindarkan ketika ada acara ulangan dadakan seperti ini, yaitu “ acara bisik-bisik tetangga” J. Kenapa demikian?? Ya karena itu merupakan senjata ampuh dan senjata terakhir yang dikeluarkan saat pikiran sudah mulai buntu dan waktu mengerjakan sudah hampir habis. Sungguh sangat menarik:-D
Setelah semua anak megumpulkan hasil jawabannya Bapak dosen berkata “ saya memang sengaja tidak memberitahukan sebelumnya kalau mau uts, ya ini saya lakukan untuk menjaga keorisinilan jawaban kalian”.
Ya..ya..itulah kejuatan yang diberikan bapak dosen MSI kita pada pertemuan MSI ke 7.
Dan hikmah yang dapat diambil dari pertemuan MSI ke 7  ini adalah:
1.      Hindari sifat malas
2.  Usakan belajar atau mengulang materi yang telah diterima, agar ketika ada ulangan yang mendadak kita bisa selalu siap.
3.    Kalau bisa hindari kegiatan bisik-bisik tetangga ketika ulangan..junjung tinggi sikap sportifitas dengan kerja mandiri:-D

MSI 6



     B.  Studi Islam di Barat.
Studi Islam di Barat secara sederhana dikelompokkan menjadi dua bagian. [1] membahas tentang sejarah dinamika perkembangan studi Islam di Barat yang dilakukan oleh para mahasiswa Indonesia beserta para tokoh yang mempunyai peran penting; [2] kondisi studi Islam dibeberapa universitas diluar negeri.
Ditinjau dari persepektif sejarah, studi yang dilakukan oleh orang Indonesia di Barat sudah berlangsung cukup lama, akan tetapi belum ada yang terfokus pada kajian Islam. Sebab pada saat itu, studi Islam yang dilakukan dilator belakangi oleh kepentingan politik pemerintah kolonial Belanda.
Fokus studi Islam baru mulai dilakukan setelah Indonesia merdeka. Orang Indonesia yang pertama kali melakukan studi Islam di Barat adalah M. Rasjidi (Menteri Agama pertama di Indonesia) pada tahun 1954. Selanjutnya generasi awal yang melakukan studi Islam di Barat pasca Rasjidi adalah Harun Nasution. Harun dengan intens mengembangkan studi Islam sebagai centre of excellence bagi pengembangan ilmu-ilmu keislaman. Selain itu gagasan Harun berorientasi pada peningkatan kualitas dan pencerahan kajian Islam di Indonesia  perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan IAIN dilakukan Harun dalam  berbagai aspek, yaitu dengan mengubah sistem kuliah dengan sistem diskusi, membiasakan budaya menulis ilmiah dalam paper, makalah, serta memperkenalkan studi Islam secara komperhensif. Tokoh lain yang memilki peran peran penting dalam studi Islam di Barat adalah Mukti Ali  dengan kaijannya mengenai penelitian agama dan pengembangan agama.
Studi Islam di Barat semenjak abad ke-19 hingga sekarang ditandai oleh paling tidak tiga pendekatan. [1] studi Islam dengan pendekatan filologis yakni mendapatkan Islam hanya terbatas pada informasi teks saja, sementara sisi-sisi lain Islam yang sesungguhya jauh  lebih luas dan kaya tidak diketahui. [2] studi Islam dengan pendekatan ilmiah yakni melihat Islam sebagai masyarakat yang sistemik sebagaimana masyarakat Barat, sehingga kekhasan dan keunikannya yang bersifat cultural tidak tampak oleh mereka. [3] studi Islam dengan pendekatan fenomenologi-interpretatif yakni memahami Islam khususnya masyarakat Islam sebagai sistem simbol yang syarat dengan makna-makna sebagaimana yang dikehendaki oleh dirinya sendiri, bukan dari persepsi orang Barat atas diri mereka.
Dengan maraknya studi Islam di Barat muncul pandangan yang kurang suka terhadap fenomena studi Islam di Barat, hal ini dikarenakan adanya kekhawatiran munculnya dampak negatif terhadap umat Islam. Sehingga muncul kritikan-kritikan tentang fenomena studi Islam di Barat. Aspek yang dikritik adalah [1] kajian-kajian Islam di Barat yang cenderung bersifat esensialis; [2]dimotivasi oleh kepentingan- kepentingan politis; [3] kajian Islam di Barat merupakan upaya untuk melestarikaan kebenaran-kebenaran yang dicapai atas nama kehidupan intelektual dan akademis.
Namun demikian, studi Islam yang dilakukan di Barat juga memiliki berbagai kelebihan, salah satunya adalah mahasiswa menjadi pusat pengembangan sedangkan dosen hanya mengarahkan.
Oleh-oleh :
*      Bacaan dan lingkungan menentukan kita sekarang dan masa yang akan datang.
*      Publikasi merupakan ukuran tinggi rendahnya pengetahuan seseorang. (Selasa 14 April 2015)

MSI 5

BAB II : Dinamika Perkembangan Studi Islam
       A. Sejarah Awal Studi Islam
Studi Islam sebagai sebuah praktik sesungguhnya sudah ada sejak pada masa hidup Nabi  Muhammad Saw. Namun apa yang tengah berlangsung pada Nabi tersebut belum bisa disebut studi Islam sebagai suatu disiplin keilmuan yang dilakukan secara sistematis dan terstruktur.Dalam praktiknya studi Islam berlangsung dalam berbagai bentuk, ada yang dalam bentuk khutbah, dialog, maupun forum-forum diskusi yang bertempat dimasjid (halqah dan ribath).
Pada masa selanjutnya studi Islam terus mengalami perkembangan, dan aspek penting yang tidak bisa diabaikan dalam masa kekemasan Islam ini adalah adanya perpustakaan yang digunakan sebagai ruang baca, pusat aktivitas akademik, dan ruang diskusi.Selanjutnya studi Islam juga masuk ke negara-negara Barat, yang ditandai dengan adanya penyalinan manuskrip-manuskrip kedalam bahasa latin sejak abad ke 13 M sampai zaman renaissance Eropa abad 14 M. Implikasi dari penyalinan naskah ini adalah terbukanya cabang-cabang ilmiah di Barat dan dimulainya kajian secar serius terhadap Islam dalam berbagai dimensinya hingga melahirkan istilah kontroversial terhadap kajian Islam yaitu orientalisme. (Selasa 7 April 2015)