B. Studi
Islam di Barat.
Studi
Islam di Barat secara sederhana dikelompokkan menjadi dua bagian. [1] membahas
tentang sejarah dinamika perkembangan studi Islam di Barat yang dilakukan oleh
para mahasiswa Indonesia beserta para tokoh yang mempunyai peran penting; [2]
kondisi studi Islam dibeberapa universitas diluar negeri.
Ditinjau
dari persepektif sejarah, studi yang dilakukan oleh orang Indonesia di Barat
sudah berlangsung cukup lama, akan tetapi belum ada yang terfokus pada kajian
Islam. Sebab pada saat itu, studi Islam yang dilakukan dilator belakangi oleh
kepentingan politik pemerintah kolonial Belanda.
Fokus
studi Islam baru mulai dilakukan setelah Indonesia merdeka. Orang Indonesia
yang pertama kali melakukan studi Islam di Barat adalah M. Rasjidi (Menteri
Agama pertama di Indonesia) pada tahun 1954. Selanjutnya generasi awal yang
melakukan studi Islam di Barat pasca Rasjidi adalah Harun Nasution. Harun
dengan intens mengembangkan studi Islam sebagai centre of excellence bagi pengembangan ilmu-ilmu keislaman. Selain
itu gagasan Harun berorientasi pada peningkatan kualitas dan pencerahan kajian
Islam di Indonesia perubahan dan
pembaharuan sistem pendidikan IAIN dilakukan Harun dalam berbagai aspek, yaitu dengan mengubah sistem
kuliah dengan sistem diskusi, membiasakan budaya menulis ilmiah dalam paper,
makalah, serta memperkenalkan studi Islam secara komperhensif. Tokoh lain yang
memilki peran peran penting dalam studi Islam di Barat adalah Mukti Ali dengan kaijannya mengenai penelitian agama
dan pengembangan agama.
Studi
Islam di Barat semenjak abad ke-19 hingga sekarang ditandai oleh paling tidak
tiga pendekatan. [1] studi Islam dengan pendekatan filologis yakni mendapatkan
Islam hanya terbatas pada informasi teks saja, sementara sisi-sisi lain Islam
yang sesungguhya jauh lebih luas dan
kaya tidak diketahui. [2] studi Islam dengan pendekatan ilmiah yakni melihat
Islam sebagai masyarakat yang sistemik sebagaimana masyarakat Barat, sehingga
kekhasan dan keunikannya yang bersifat cultural tidak tampak oleh mereka. [3] studi
Islam dengan pendekatan fenomenologi-interpretatif yakni memahami Islam
khususnya masyarakat Islam sebagai sistem simbol yang syarat dengan makna-makna
sebagaimana yang dikehendaki oleh dirinya sendiri, bukan dari persepsi orang
Barat atas diri mereka.
Dengan
maraknya studi Islam di Barat muncul pandangan yang kurang suka terhadap
fenomena studi Islam di Barat, hal ini dikarenakan adanya kekhawatiran
munculnya dampak negatif terhadap umat Islam. Sehingga muncul kritikan-kritikan
tentang fenomena studi Islam di Barat. Aspek yang dikritik adalah [1]
kajian-kajian Islam di Barat yang cenderung bersifat esensialis; [2]dimotivasi
oleh kepentingan- kepentingan politis; [3] kajian Islam di Barat merupakan
upaya untuk melestarikaan kebenaran-kebenaran yang dicapai atas nama kehidupan
intelektual dan akademis.
Namun
demikian, studi Islam yang dilakukan di Barat juga memiliki berbagai kelebihan,
salah satunya adalah mahasiswa menjadi pusat pengembangan sedangkan dosen hanya
mengarahkan.
Oleh-oleh :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar