Minggu, 03 Mei 2015

MSI 6



     B.  Studi Islam di Barat.
Studi Islam di Barat secara sederhana dikelompokkan menjadi dua bagian. [1] membahas tentang sejarah dinamika perkembangan studi Islam di Barat yang dilakukan oleh para mahasiswa Indonesia beserta para tokoh yang mempunyai peran penting; [2] kondisi studi Islam dibeberapa universitas diluar negeri.
Ditinjau dari persepektif sejarah, studi yang dilakukan oleh orang Indonesia di Barat sudah berlangsung cukup lama, akan tetapi belum ada yang terfokus pada kajian Islam. Sebab pada saat itu, studi Islam yang dilakukan dilator belakangi oleh kepentingan politik pemerintah kolonial Belanda.
Fokus studi Islam baru mulai dilakukan setelah Indonesia merdeka. Orang Indonesia yang pertama kali melakukan studi Islam di Barat adalah M. Rasjidi (Menteri Agama pertama di Indonesia) pada tahun 1954. Selanjutnya generasi awal yang melakukan studi Islam di Barat pasca Rasjidi adalah Harun Nasution. Harun dengan intens mengembangkan studi Islam sebagai centre of excellence bagi pengembangan ilmu-ilmu keislaman. Selain itu gagasan Harun berorientasi pada peningkatan kualitas dan pencerahan kajian Islam di Indonesia  perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan IAIN dilakukan Harun dalam  berbagai aspek, yaitu dengan mengubah sistem kuliah dengan sistem diskusi, membiasakan budaya menulis ilmiah dalam paper, makalah, serta memperkenalkan studi Islam secara komperhensif. Tokoh lain yang memilki peran peran penting dalam studi Islam di Barat adalah Mukti Ali  dengan kaijannya mengenai penelitian agama dan pengembangan agama.
Studi Islam di Barat semenjak abad ke-19 hingga sekarang ditandai oleh paling tidak tiga pendekatan. [1] studi Islam dengan pendekatan filologis yakni mendapatkan Islam hanya terbatas pada informasi teks saja, sementara sisi-sisi lain Islam yang sesungguhya jauh  lebih luas dan kaya tidak diketahui. [2] studi Islam dengan pendekatan ilmiah yakni melihat Islam sebagai masyarakat yang sistemik sebagaimana masyarakat Barat, sehingga kekhasan dan keunikannya yang bersifat cultural tidak tampak oleh mereka. [3] studi Islam dengan pendekatan fenomenologi-interpretatif yakni memahami Islam khususnya masyarakat Islam sebagai sistem simbol yang syarat dengan makna-makna sebagaimana yang dikehendaki oleh dirinya sendiri, bukan dari persepsi orang Barat atas diri mereka.
Dengan maraknya studi Islam di Barat muncul pandangan yang kurang suka terhadap fenomena studi Islam di Barat, hal ini dikarenakan adanya kekhawatiran munculnya dampak negatif terhadap umat Islam. Sehingga muncul kritikan-kritikan tentang fenomena studi Islam di Barat. Aspek yang dikritik adalah [1] kajian-kajian Islam di Barat yang cenderung bersifat esensialis; [2]dimotivasi oleh kepentingan- kepentingan politis; [3] kajian Islam di Barat merupakan upaya untuk melestarikaan kebenaran-kebenaran yang dicapai atas nama kehidupan intelektual dan akademis.
Namun demikian, studi Islam yang dilakukan di Barat juga memiliki berbagai kelebihan, salah satunya adalah mahasiswa menjadi pusat pengembangan sedangkan dosen hanya mengarahkan.
Oleh-oleh :
*      Bacaan dan lingkungan menentukan kita sekarang dan masa yang akan datang.
*      Publikasi merupakan ukuran tinggi rendahnya pengetahuan seseorang. (Selasa 14 April 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar